Entry: Kiat menjual teknologi di Indonesia Wednesday, March 08, 2006



Jika muncul pertanyaan 'Siapakah bank tercanggih di Indonesia?' mungkin jawaban yang sering kita dengar adalah BCA dengan jumlah ATM terbesar yang dimilikinya. Padahal ukuran kecanggihan sebuah teknologi perbankan tidak hanya dilihat dari coverage ATM-nya semata, tapi seharusnya dilihat pada data centernya, khususnya di aplikasi core bankingnya.

Namun masyarakat sering salah kaprah. Internet banking sering dikatakan canggih karena memungkinkan akses perbankan dari manapun. Padahal jika dilihat dari arsitektur sistem perbankannya, E-Banking hanyalah salah satu channel dari banyak channel untuk transaksi perbankan semisal EDC (electronic data capture) yang banyak terdapat di merchant belanja. Ataupun mesin ATM itu sendiri

Mudahnya sebuah sistem yang mengelola data hingga 140 juta customer base yang hanya digunakan untuk pencatatan saja semisal KPU-Pemilu, tentunya tidak lebih canggih dibandingkan BRI dengan 30 juta customer yang menggunakan aplikasinya untuk menghitung kelipatan bunga dan kredit. Dan tentunya tidak berarti BRI kalah canggih dengan aplikasi Bank Niaga yang mampu dengan akses banyak channel-nya bila pelanggannya hanya 10juta.

Dari sinilah bisa terlihat bahwa sesungguhnya kecanggihan sebuah sistem adalah lebih pada persepsi masyarakat. Perbandingan langsung antar sistem pun sulit dilakukan karena sistem ini mencangkup banyak subsistem lain yang kompleks. Berikut opini pribadi penulis tentang aspek teknologi mana yang perlu ditekankan dalam strategi pemasaran perusahaan:

1. Coverage/Penetration
Dengan jumlah penduduk 220 juta issue coverage adalah issue yang paling mudah diangkat. Dan TSEL adalah perusahaan yang berhasil mengangkat issue ini dengan sangat baik. BCA pun terlanjur mendapatkan persepsi sebagai jaringan ATM yang terbesar.

2. Jargon
Term e-banking dipelopori BCA kemudian disusul dengan bank-bank lainnya menjadi indikator bahwa bank tersebut sangat responsive dengan teknologi. Contoh sukses selain BCA adalah ISAT, dengan kampanye MMS, GPRS dan jargon-jargon lainnya membuat awareness customer akan operator yang canggih tertuju pada ISAT.

Akhirnya lupakan backend teknologi yang jelas-jelas mahal namun sulit dipasarkan. Semacam high-end server, backup, clustering dkk. Ini Indonesia Bung.

   3 comments

arief
July 29, 2006   10:09 PM PDT
 
Saya juga punya silsilah dari bokap 10 tingkat diatas saya. Dan kalau dilihat buku silsilah dari kakek moyang saya dari ayah saya masih keturunan Brawijaya dan sunan drajad. Saya ada bukunya. Tk.

boleh tahu nggak nggak yang posting kalimat diatas
Anjar Priandoyo
March 9, 2006   07:29 AM PST
 
Betul sekali bung Yuan, dan untuk Telco yang paling jago adalah IM3. Perbandingan antara investasi technology dan jumlah customernya yang paling menakjubkan, sehingga bisa jadi operator kedua terbesar. Konon orang-orang marketingnya jago banget. Padahal sih kalau dari sisi teknologi tau sendirilah gimana IM3 itu.
Yuan
March 8, 2006   03:23 PM PST
 
Kunci utama sebenarnya inovasi dan kemasannya (dibanding produknya sendiri) untuk target pasar indonesia. GPRS IM3 apa bedanya sama GPRS TLKMSL ?
Image building aku kira juga penting, seperti telkomsel yg punya image jangkauan luas, toshiba dengan laptop-laptop terbaik, honda untuk merek motor yg irit, dsb.
Hue hue.... ada manfaatnya juga banyak bergaul sama orang-orang komunikasi.

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments