Leo Tolstoy, Gusdur dan Napoleon
Saya suka membaca cerpen minggu dikompas, selain pendek saya suka dengan tema-tema yang seakan tidak biasa dan tentunya tidak banyak 'membuang' waktu saya. Saya termasuk orang yang apresiasi terhadap seninya biasa-biasa saja, tidak suka novel yang panjang-panjang dan bacaan-bacaan berat lainnya. Dulu ketika saya sekolah dasar saya sempat membaca 'Harta Karun Rockweel, empat sekawan dari Enid Blyton, dan selebihnya hanya komik berwarna dari Misurind seperti Asterix, Agen Polisi 212, Bob Napi badung dan bacaan anak-anak lainnya.
Dalam sebuah tulisan di Kedaulatan Rakyat, Gusdur pernah menyinggung karya
Leo Tolstoy seorang sastrawan besar dari Rusia yang kemudian dipaparkan direpublika dalam
Membangun toleransi dengan biografi yang membawa pada suatu kesimpulan bahwa orang besar membaca karya sastrawan besar.
Begitu juga tokoh favorit saya, Napoleon yang dalam
Napoleon the Reader: The Early Years diceritakan bahwa
...He became an avid reader and acquired a taste for the classics of Ancient Greece, Rome, the Renaissance and of France's Age of Louis XIV. It was at Brienne, that he discovered the joys of reading the works of Roman historians Plutarch, Tacitus, Livy...Luar biasa bukan, dan apa hubungannya tiga orang diatas adalah bahwa Tolstoy dalam 'War n Peace' salah satu novel karya besarnya menceritakan banyak hal tentang Napoleon. Hmmm tapi jangan suruh saya membaca novelnya saya lebih suka menonton atau mendengarkan orang bercerita. Let we see